Game action-sebagaimana sejumlah genre lain-punya kecenderungan untuk menjadi semakin kompleks. Pengaruh terutama berasal dari genre RPG, yang mendorong para produsen menciptakan game action dengan cerita ala epik yang panjang dan rumit, karakter yang berlimpah, sistem perkembangan karakter dengan experience point, dan sebagainya. Tapi sesekali, muncul game yang justru menyuguhkan kesederhanaan.
Empat tahun silam, satu tim developer milik Sony Computer Entertainment, Inc. (SCEI) membuat game action berjudul Ico. Game untuk mesin PlayStation2 tersebut singkat, simpel, tapi teramat indah lagi berkesan. Bukan game tipe box office, memang. Tapi tanggapan yang sangat positif dari kalangan pemerhati video game menjadikan game ini suatu gengsi tersendiri bagi SCEI. Karena itulah, SCEI memberikan akses bagi para pencipta Ico untuk membuat game baru dengan formula yang kurang lebih sama. Maka, lahirlah Wander to Kyozou, atau yang di Amerika disebut sebagai Shadow of the Colossus.
Game ini berkisah tentang seorang pengelana (Wander) yang tiba di suatu kuil. Ia memohon penguasa kuil tersebut untuk menghidupkan kembali seorang gadis yang dibawanya. Permintaannya dikabulkan, dengan syarat ia harus membunuh enam belas raksasa yang berkeliaran di berbagai penjuru negeri itu. Wander pun memulai perburuan, dengan mengendarai kuda bernama Aggro.
Raksasa yang dimaksud benar-benar berwujud sangat besar, di mana Wander dan Aggro bagaikan tikus di mata mereka. Tiap raksasa mempunyai sosok yang berbeda, punya karakter yang berbeda, serta titik lemah yang berbeda pula. Pedang yang dimiliki Wander mampu menunjukkan kediaman para raksasa serta letak kelemahan mereka. Wander juga punya senjata panah, serta Aggro yang bisa diandalkan. Tapi mencapai titik lemah sambil bertahan dari gerakan raksasa-yang tentu tidak mau dibunuh begitu saja-merupakan inti dari game ini.
Pemain harus mengamati pola gerak raksasa, lalu mencari timing yang tepat untuk naik ke tubuhnya. Para raksasa selalu berusaha menjatuhkan Wander yang merayap naik, atau kalau perlu menghantamnya hingga tewas. Pemain harus memperhatikan stamina Wander, yang sangat vital sebagai modal untuk mencapai titik lemah raksasa. Stamina bisa diisi dengan memakan buah atau reptil yang betebaran di medan perburuan.
Secara grafis, game ini-sebagaimana Ico-tidak mengeksplorasi teknologi PlayStation2 secara maksimal. Tapi nuansa yang ditampilkan sangat artistik. Dunia yang suram, diperkuat oleh suara di latar belakang. Kisah petualangan Wander ini sendiri menimbulkan pertanyaan moralitas: apa salah para raksasa tersebut sehingga harus dibunuh? (ray)
Wander to Kyozou (Shadow of the Colossus)
Genre: Action
Mesin: PlayStation2
Produksi: SCEI
Rilis: 27 Oktober 2005
cp from :jp

No comments yet
Comments feed for this article