You are currently browsing the category archive for the 'Uncategorized' category.
Karakter L Jadi Lebih Manusiawi
Setelah mengguratkan namanya di Death Note dalam Death Note: The Last Name, L hanya punya waktu 23 hari sebelum ajal menjemputnya. Apa yang dilakukan L untuk mengisi hari-hari menjelang kematiannya? Mengulum permen sambil mengurung diri di kamar, meratapi kematian Watari? Nope!
Untuk terakhir kalinya, L harus menangani kasus yang mengancam keselamatan dunia dalam L change the WorLd. Berbeda dengan Death Note dan Death Note: Last Name, kali ini L dituntut untuk keluar dari sarangnya. Nggak hanya otak encernya yang bekerja, tapi juga fisiknya. Lari-larian sambil “mengasuh” dua anak kecil, menghindari berondongan senjata, melompat ke pesawat yang dibajak, dan aktivitas lain layaknya seorang hero.
Sisi humanis L juga digali lewat interaksinya dengan dua bocah yang ada dalam lindungannya. Cowok yang selalu tampil dengan kaus putih dan celana jins belel ini piknik dengan dua “anak asuh”-nya di atap, bahkan mengucapkan “Itadakimasu” (selamat makan, Red.) sebelum menyantap makanan manis kesukaannya.
Ini merupakan hal baru bagi L yang terbiasa mengurung diri. “Saya ingin memotret sisi kemanusiaan L yang tak ditunjukkan dalam seri Death Note,” ujar Nakata Hideo sang sutradara kepada The Daily Yomiuri.
Nakata nggak lupa memuji akting Matsuyama Kenichi yang menghidupkan peran L. “Dia adalah aktor yang ’dirasuki’ perannya selama 24 jam sehari ketika syuting,” katanya, “Dua minggu sebelum syuting, ekspresi wajahnya berubah jadi L.”
Hal itu diakui MatsuKen, sapaan akrab Matsuyama, pada Gyao Magazine. “Mungkin peran itu juga mewarnai diri saya. Saat pemotretan, nggak hanya (wajah) L, tapi cara berdiri saya juga agak membungkuk (seperti L),” ungkapnya.
Mengenai perannya yang kini lebih banyak menguras energi, MatsuKen berkomentar bahwa detektif nyentrik itu telah berubah. “Setelah kematian Watari, perasaan L mulai berubah,” peraih gelar Best New Actor dalam Japan Academy Award 2005 lewat Otoko Tachi no Yamato ini.
Sejak diumumkan pembuatannya pada 2007, L change the WorLd menjadi film paling ditunggu oleh fans Death Note. Namun, fans Jepang terpaksa rela didahului fans Hongkong. Sebab, Warner Brothers merilis L di sana pada 7 Februari. Fans Jepang baru bisa menikmati L dua hari kemudian. Sedangkan Singapura menayangkannya mulai 21 Februari.
L change the WorLd merupakan kisah orisinal yang nggak muncul dalam manga maupun animenya. Sebagian fans kecewa dengan alur cerita yang dianggap nggal selevel dua film pendahulunya. Mereka menganggap L nggak lebih dari film action biasa.
Namun, bukan berarti L layak dilewatkan. Nakata memberi kejutan menarik di penghujung film, yang akan menghubungkan film ini dengan kisah manga Death Note pasca kematian L. (ran)
Chara
L. Lawliet
Pemeran: Matsuyama Kenichi
Detektif jenius yang berkepribadian unik. Sangat suka makanan manis dan cenderung penyendiri.
Nikaido Maki
Pemeran: Fukuda Mayuko
Putri Nikaido Kimihiko. Sang ayah mempercayakan informasi penting mengenai antivirus yang diincar para bioteroris padanya.
Boy
Pemeran: Fukuda Narushi
Satu-satunya survivor dari insiden di sebuah desa di Thailand. F dari Wammy’s House menyerahkan bocah jenius matematika ini ke tangan L untuk mendapat perlindungan.
Watari
Pemeran: Fujimura Shunji
Satu-satunya orang yang dekat dengan L. Pria tua yang selalu terlihat kalem ini adalah pemilik panti asuhan Wammy’s House.
Kujo Kimiko
Pemeran: Kudou Youki
Ilmuwan yang bertanggung jawab dalam riset virus. Bersama Nikaido saat terjadi insiden di Thailand, tapi hanya dia yang selamat.
Matoba Daisuke
Pemeran: Takashima Masanobu
Anggota Kankyou Hogo Dantai (organisasi perlindungan lingkungan), Fullship. Pria perlente tapi berbahaya ini banyak melakukan kegiatan terorisme di luar negeri.
Nikaido Kimihiko
Pemeran: Tsurumi Shingo
Kepala Nikaido Boueki Kenkyuu Center. Pihak Washington memintanya untuk menyelidiki kasus bioteror.
Shun Suruga
Pemeran: Nanbara Kiyotaka
Agen FBI yang dikirim untuk menyelidiki bioteror. Dia mendekati L untuk mengambil kembali Death Note.
L change the WorLd
Produksi: Warner Brothers
Tayang: 9 Februari 2008 (Jepang), 21 Februari 2008 (Singapura)
Sutradara: Nakata Hideo
Durasi: 128 menit
copy from jawa pos
Sutradara legendaris yang menghasilkan film trilogi The Lord of the Rings, Peter Jackson, ternyata adalah seorang gamer. Ketika mengerjakan King Kong, film daur ulang dengan judul yang sama di tahun 1933, Jackson tidak hanya ingin merambah dunia film. Dia ingin lebih! Dia ingin gamer juga merasakan petualangan seseru filmnya.
Jackson kemudian mencari produser game yang memiliki talenta sepadan dengan dirinya dalam film. Dia tidak ingin game King Kong hanya menjadi adaptasi film, seperti game-game kebanyakan. Kemudian dia ingat satu nama: Michael Ancel! Pencipta Beyond Good and Evil, yang sangat digemarinya.
Kolaborasi keduanya ternyata sangat sukses. King Kong tidak hanya menjadi game adaptasi film yang sangat bagus. Game ini layak disejajarkan dengan nama-nama besar sekelas God of War atau Prince of Persia. Ancel berhasil mempersembahkan petualangan yang sangat realistis, sementara Jackson menciptakan cerita dan berbagai makhluk ekslusif khusus untuk gamenya.
Game King Kong menceritakan tentang petualangan sebuah kelompok ekspedisi pembuat film dokumenter. Mereka ingin membuat sebuah film dokumenter tentang peradaban sebuah pulau misterius bernama Skull Island.
Setibanya di sana, mereka berhadapan dengan berbagai jenis makhluk yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Mulai dari binatang purbakala, hingga masyarakat pedalaman yang sangat tertutup dengan dunia luar. Selain itu, kabar menyebutkan eksisnya seekor makhluk buas mirip gorilla bernama King Kong. Penasaran dengan legenda itu, Carl dan kawan-kawan segera bergegas mencari tahu kebenaran King Kong.
Ancel dan Jackson berhasil membawa pengalaman bermain dalam sebuah game action yang benar-benar hidup. Gamer akan mengendalikan Jack Driscoll dalam tampilan first person. Gamer serasa sedang menikmati film yang interaktif. Jika Jack terluka, maka layar akan menjadi kabur dan berwarna merah. Anda tidak akan menemukan indikator darah berkurang, seperti kebanyakan game lain.
Teknologi terbaru yang disebut inverse kinematics juga diimplementasikan dalam game ini. Hal ini menciptakan berbagai variasi dalam pola pikir AI dalam game King Kong. Lawan yang akan dihadapi bukan hanya terdiri dari beberapa program saja. Mereka benar-benar cerdas. Jauh lebih cerdas dibanding para prajurit dalam Metal Gear Solid.
Untungnya bukan hanya para monster yang diciptakan dengan sangat cerdas. Tim Anda pun dibekali dengan AI yang luar biasa. Mereka akan memberikan solusi-solusi pada Anda, mencoba melindungi sesama, berlari, bersembunyi. Mereka benar-benar bersikap seperti manusia pada umumnya… manusia ketakutan pada umumnya.
Inverse kinematics membuat segalanya lebih hidup. Para makhluk buas ini benar-benar bersikap selayaknya monster. Mereka tidak hanya menyerang Anda. Mereka juga saling menyerang sesama, terutama yang berbeda spesies. Mereka juga bisa letih, bahkan perlu istirahat. Jadi jangan heran bila Anda menjumpai makhluk-makhluk ini sedang tertidur pulas.
Selain Driscoll, Anda juga akan berperan sebagai King Kong. Berbeda dengan Driscoll yang lemah dan penuh keterbatasan. King Kong adalah makhluk terkuat dalam game ini. Sudut pandang permainan pun berubah dari first person ke third person. Aspek survival dihilangkan. Sebagai King Kong, genre berubah menjadi action keras. Anda bisa bertarung brutal melawan sekelompok V-Rex, kemudian menghabisinya dengan serangkaian kombinasi tombol.
Lupakan semua game adaptasi film yang pernah Anda mainkan. King Kong adalah pilihan terbaik minggu ini. Ancel, seperti Jackson, adalah seorang seniman yang tidak pernah mengecewakan penggemarnya. Ini adalah game adaptasi film terbaik yang pernah diciptakan. (grc)
King Kong
System: Xbox360, Xbox, PS2, GameCube
Genre: Action / FPS
Produksi: Ubisoft
Tanggal Rilis: 21 November 2005
Sudah bukan menjadi rahasia lagi, bahwa sebuah game yang diadaptasi dari film “hanya” menjadi bumbu pemanis dari film tersebut. Tahun ini Jackson dan Ancel menghancurkan pendapat itu melalui King Kong.
Pulau Skull Island dibuat dengan menggunakan teknik penggambaran secara manual, tidak dengan teknologi Computer Graphics (CG) yang sangat populer dikalangan para developer. Dengan teknik tersebut, diharapkan lingkungan yang tergambar dalam King Kong benar-benar tergambar secara detail, tanpa ada efek tekstur poligon yang tidak tergambar dengan sempurna lagi.
cp from :jp
Seri game racing buatan Elecronic Arts yang satu ini memang tidak pernah mati. Pertama kali keluar untuk PC pada tahun 1995 dengan judul Need For Speed (NFS). Saat itu game ini mampu merebut perhatian para gamer di seluruh dunia, karena menyuguhkan gameplay yang begitu realistis.
EA kemudian makin produktif untuk membuat seri-seri NFS berikutnya, seperti Hot Pursuit, High Stakes, V-Rally, dan yang paling “panas” saat ini, Underground. Seri terakhir ini menjadi best hit untuk genre racing karena menampilkan balapan jalanan yang didukung oleh fitur memodifikasi mobil. Hal ini terinspirasi oleh film Hollywood besutan Rob Cohen, The Fast and Furious.
Menjelang dirilisnya Xbox360, EA pun membuat seri NFS baru yang jauh lebih spektakuler. Game ini berjudul NFS Most Wanted, yang menggabungkan elemen kustomisasi dan balapan jalanan ala Underground, juga ditambah aksi kejar-kejaran dengan polisi seperti pada Hot Pursuit.
Berkaca pada pengalaman tahun lalu, di mana Underground 2 gagal mempertahankan kesuksesan prekuelnya, EA tidak mau kecolongan lagi kali ini. Mereka berhasil membawa NFS kembali berjaya dalam persaingan genre racing yang semakin selektif. Most Wanted dipatok untuk menjadi setingkat lebih baik dibandingkan seri sebelumnya.
Konsep Open World yang digotong Underground 2 sebenarnya sudah sangat bagus, meski tidak sesuai dengan genre ini. Most Wanted kembali ke akar genre racing, bukan sebuah game petualangan bebas roaming seperti Grand Theft Auto. Pemahaman ini yang kemudian dikembangkan EA.
Bersetting pada satu kota besar yang saling terhubung antara satu dengan lainnya. Anda dapat melompat dari satu race ke race lainnya. Freeway System jauh lebih berkembang di sini. Hampir semua track yang ada disertai dengan jalan pintas. Tidak ada sirkuit di sini. Anda harus jeli mencari jalur tercepat untuk mencapai finish.
Elemen penegak hukum kembali disertakan, balapan kini tidak bisa “seenak” dulu. Setiap kali para polisi akan selalu menghalangi laju mobil Anda. Praktis, sejak dirilisnya Underground, fitur ini sudah tidak diperhatikan lagi oleh EA. Padahal banyak fans yang masih mengharapkan kerasnya para polisi ini dalam mengejar mobil kita. Kini mereka tidak hanya datang satu-dua saja, namun lebih bersifat berkelompok, jika kejahatan black list Anda telah mencapai level 8 ke atas.
Career Mode merupakan tantangan terbesar yang harus dihadapi. Tak hanya harus menghadapi kejaran para polisi, namun juga para pembalap black list yang menjadi lawan Anda. Terdapat 15 pembalap terkuat yang menghuni black list. Anda harus mengalahkan satu persatu pembalap ini. Jika berhasil, Anda berhak memperoleh uang dan medali khusus yang dipegang oleh masing-masing pembalap. Tak jarang juga Anda bisa memperoleh mobil baru!
Memainkan game sebesar NFS memang kurang puas jika tidak disertai dengan tampilan mobil yang mewah. Mobil Anda harus yang terbaik! Untungnya EA sangat jeli dengan hal ini. Most Wanted dipenuhi berbagai jenis mobil keren.
Beberapa nama mobil yang bisa Anda gunakan dalam game ini adalah RX-8, lima jenis mobil Porsche, tiga jenis mobil Audi, dan satu mobil baru jenis Mustang. EA juga kembali menyertakan Dodge Viper dan Lamborghini untuk bersaing dengan lainnya. SUV sudah tidak disertakan lagi di sini. Jenis ini terbukti kurang diminati oleh kalangan penggemar NFS.
Satu-satunya kekurangan Most Wanted adalah kontrolnya yang lebih berat dibanding Underground. Mobil terasa sulit untuk meraih keseimbangan saat tergelincir di suatu tikungan track. Jelas, penguasaan handling dalam seri sebelumnya tidak cukup, Anda perlu banyak latihan lagi di sini. Ahh, kalau saja kontrolnya senyaman Gran Turismo. (grc)
Game Info
Produksi Electronic Arts
Genre Racing
Sistem PS2, Xbox, Xbox360, PSP
Tanggal Rilis 16 November 2005
Caption
A.I. Most Wanted diciptakan sangat cerdas! Ketika mendeteksi keberadaan Anda, seorang polisi akan mengirimkan pesan kepada rekan-rekannya melalui transmiter radio. Awas, mereka juga mencoba memprediksi tindakan apa yang Anda lakukan.
cp from :jp
Game action-sebagaimana sejumlah genre lain-punya kecenderungan untuk menjadi semakin kompleks. Pengaruh terutama berasal dari genre RPG, yang mendorong para produsen menciptakan game action dengan cerita ala epik yang panjang dan rumit, karakter yang berlimpah, sistem perkembangan karakter dengan experience point, dan sebagainya. Tapi sesekali, muncul game yang justru menyuguhkan kesederhanaan.
Empat tahun silam, satu tim developer milik Sony Computer Entertainment, Inc. (SCEI) membuat game action berjudul Ico. Game untuk mesin PlayStation2 tersebut singkat, simpel, tapi teramat indah lagi berkesan. Bukan game tipe box office, memang. Tapi tanggapan yang sangat positif dari kalangan pemerhati video game menjadikan game ini suatu gengsi tersendiri bagi SCEI. Karena itulah, SCEI memberikan akses bagi para pencipta Ico untuk membuat game baru dengan formula yang kurang lebih sama. Maka, lahirlah Wander to Kyozou, atau yang di Amerika disebut sebagai Shadow of the Colossus.
Game ini berkisah tentang seorang pengelana (Wander) yang tiba di suatu kuil. Ia memohon penguasa kuil tersebut untuk menghidupkan kembali seorang gadis yang dibawanya. Permintaannya dikabulkan, dengan syarat ia harus membunuh enam belas raksasa yang berkeliaran di berbagai penjuru negeri itu. Wander pun memulai perburuan, dengan mengendarai kuda bernama Aggro.
Raksasa yang dimaksud benar-benar berwujud sangat besar, di mana Wander dan Aggro bagaikan tikus di mata mereka. Tiap raksasa mempunyai sosok yang berbeda, punya karakter yang berbeda, serta titik lemah yang berbeda pula. Pedang yang dimiliki Wander mampu menunjukkan kediaman para raksasa serta letak kelemahan mereka. Wander juga punya senjata panah, serta Aggro yang bisa diandalkan. Tapi mencapai titik lemah sambil bertahan dari gerakan raksasa-yang tentu tidak mau dibunuh begitu saja-merupakan inti dari game ini.
Pemain harus mengamati pola gerak raksasa, lalu mencari timing yang tepat untuk naik ke tubuhnya. Para raksasa selalu berusaha menjatuhkan Wander yang merayap naik, atau kalau perlu menghantamnya hingga tewas. Pemain harus memperhatikan stamina Wander, yang sangat vital sebagai modal untuk mencapai titik lemah raksasa. Stamina bisa diisi dengan memakan buah atau reptil yang betebaran di medan perburuan.
Secara grafis, game ini-sebagaimana Ico-tidak mengeksplorasi teknologi PlayStation2 secara maksimal. Tapi nuansa yang ditampilkan sangat artistik. Dunia yang suram, diperkuat oleh suara di latar belakang. Kisah petualangan Wander ini sendiri menimbulkan pertanyaan moralitas: apa salah para raksasa tersebut sehingga harus dibunuh? (ray)
Wander to Kyozou (Shadow of the Colossus)
Genre: Action
Mesin: PlayStation2
Produksi: SCEI
Rilis: 27 Oktober 2005
cp from :jp
Code Age Commanders
Genre: Action RPG
Mesin: PlayStation2
Produksi: Square Enix
Rilis: 13 Oktober 2005
Sejak dulu, sudah lazim suatu manga/anime diadaptasi menjadi video game, atau sebaliknya dari video game menjadi manga/anime. Tapi belakangan ini, mulai muncul proyek di mana kedua media tersebut dikonsep bersamaan dan dirilis nyaris bersamaan pula. Serial .hack, misalnya. Sedari awal para pembuatnya sudah mempersiapkan .hack versi game PlayStation2, .hack versi anime, dan .hack versi manga. Semuanya saling menopang dalam hal alur cerita dan promosi produk.
Lalu Square Enix, raksasa industri game spesialis RPG, juga pernah meniru metode tersebut dalam proyek Hagane no Renkinjutsushi (Fullmetal Alchemist). Petualangan ahli alkemi muda Elric bersaudara tersebut bisa dinikmati lewat manga, anime, dan berbagai game. Kesuksesan serial yang lazim disingkat Hagaren inilah yang rupanya memotivasi Square Enix membuat proyek baru yang disebut Code Age.
Code Age merupakan proyek lintasmedia yang dimotori oleh Yusuke Naora, kader muda Square Enix yang belakangan tenar lewat desain karakternya dalam game Unlimited SaGa dan Front Mission IV. Tapi desain karakter Code Age ditangani oleh Toshiyuki Itahana, yang berpengalaman dalam game Final Fantasy IX dan Final Fantasy Crystal Chronicle. Dan desain gamenya dikerjakan oleh Akitoshi Kawazu, veteran dari serial SaGa.
Versi manga proyek ini yang berjudul Code Age Archive telah berjalan di majalah bulanan milik Square Enix. Sedangkan versi gamenya sejauh ini ada dua macam. Yang pertama untuk mesin PlayStation2 dengan judul Code Age Commanders. Sedangkan satunya adalah Code Age Brawls, sebuah game untuk ponsel berfasilitas online (serupa dengan game Final Fantasy VII – Before Crisis). Ketiga produk tersebut bersetting di dunia yang sama, tapi dengan tokoh sentral dan kisah yang berlainan.
Beberapa saat yang lalu, Code Age Commanders telah dirilis. Game ini bergenre action RPG, mirip serial Kingdom Hearts atau Hagaren. Pemain mengendalikan satu karakter, sementara ada satu atau lebih karakter lain yang bergerak secara AI (artificial intelligence). Musuh yang dihadapi adalah para Coded, tapi ada musuh lain yaitu Otello.
Karakter bisa menghisap Otello untuk dijadikan penopang kekuatan di kedua tangan. Otello berguna untuk menambah teknik gerakan baru, kekuatan tempur, atau efek yang membantu ketika bertempur. Setiap tangan bisa memuat tiga Otello. Jika Otello di tangan hendak dibuang, tinggal ditembakkan ke arah musuh.
Pertempuran dalam game ini berbasis serangan beruntun (combo). Jika combo dilakukan berturut-turut, akan terbuka kesempatan melancarkan jurus dahsyat yang disebut Code Drive. Tapi musuh juga bisa melakukan Code Drive, sehingga pemain harus waspada untuk menangkisnya.
Hal yang menarik dalam game ini adalah perkembangan karakter. Ada dua cara untuk membuat karakter semakin kuat. Pertama, disebut Evolution, yang mirip perkembangan naga dalam serial Panzer Dragoon. Organ tubuh yang paling aktif akan makin kuat secara otomatis. Jika karakter banyak berlari di sepanjang permainan, misalnya, kecepatan geraknya akan meningkat.
Kedua, pemain juga bisa meningkatkan dengan cara biasa, yang di sini disebut Code Extension. Di setiap akhir misi, pemain mendapat Code Point berdasarkan performanya. Poin ini bisa digunakan secara bebas untuk menambah kekuatan serangan, pertahanan, kecepatan, dan lainnya. Pemain juga bisa mendapat Code Point dengan cara mengulang misi, tapi poin yang didapat cuma selisih antara performa terdahulu dan performa yang terakhir. Jadi, karakter tidak bisa menjadi karakter super dengan cara ini. (ray)
cp from: jp
“Manusia memakan daging dan ikan untuk bertahan hidup. Vampir adalah makhluk yang memangsa kaum ini. Lantas, pernahkah terlintas di benakmu bahwa ada makhluk lain yang hidup dengan mengisap darah vampir?” Kalimat di atas mungkin terasa mengerikan buat sebagian orang. Namun, justru inilah yang menjadi dasar bergulirnya manga Trinity Blood (Toribla).
Manga yang bernuansa bloody, angsty, dan gothic ini lahir dari tangan Kuujou Kiyo. Cerita orisinalnya merupakan buah karya Yoshida Sunao, pengarang berbakat yang, sayangnya, mangkat di usia muda.
Toribla bertutur mengenai aktivitas para petinggi Vatikan, yang mewakili Terran (manusia), melawan vampir yang memproklamirkan diri sebagai Metoselah. Para vampir yang dikaruniai kekuatan istimewa nggak bisa dihadapi dengan cara biasa. Mereka nggak takut pada salib atau bawang putih.
Untunglah Vatikan memiliki korps khusus, Kokumu Seishou Tokumu Bunshitsu (The Division of State Ecclesiastical Affairs) alias Ax, untuk menghadapi para vampir. Korps yang dipimpin Kardinal Catherina Sforza ini terdiri dari prajurit pilihan. Di antaranya, Pastur Abel Nightroad, Pastur Tres Iqus, dan Suster Esther Blanchett. Abel adalah Krusnik, makhluk pengisap darah vampir. Tres merupakan cyborg kreasi ilmuwan Vatikan. Sedangkan Esther hanyalah manusia biasa.
Perjuangan pastur dan suster ini akhirnya membawa mereka pada Rozenkreuz Orden, organisasi yang menaungi para Metoselah. Isaak Fernand von Kämpfer sang pemimpin berusaha menebar teror ke seluruh dunia.
Dibandingkan versi anime yang kental nuansa gothic, manga Toribla memberikan kesan yang lebih “riang”. Goresan Kuujou Kiyo sang mangaka sangat berbeda dengan style ilustrator aslinya, Thores Shibamoto, yang cenderung dark dengan tarikan garis tegas. Sementara Thores memberi banyak sentuhan detail, Kuujou sebaliknya.
Versi manga ini banyak memiliki perbedaan dengan animenya yang ditayangkan WOWOW Nonscramble mulai 28 April lalu. Yang paling mencolok adalah adegan pembuka. Dalam versi anime, Abel harus berhadapan dengan Metoselah yang membajak pesawat milik Kerajaan Albion. Sedangkan versi manga dibuka dengan adegan pertemuan Abel dan Esther di jalanan.
Adegan kemunculan Tres pun berbeda. Bila dalam anime Tres muncul di episode pertama saat menembakkan roket ke pesawat milik Albion, dalam manga Tres tampil perdana saat menyamar sebagai anak buah Lord Gyula Kadar. Karakter Esther pun dibuat lebih ceria dan terbuka. Dia nggak segan-segan menunjukkan beragam ekspresi.
Penasaran dengan sepak terjang Pastur Abel dkk? Kamu bisa mengikuti serialnya di Asuka Comics. Volume perdana tankoubon Toribla beredar 17 Maret 2004. Saat tulisan ini diturunkan, Toribla baru mencapai volume empat yang dirilis 17 Juni. Kisahnya sendiri masih berlanjut dengan hadirnya tokoh baru yang memiliki kaitan dengan Abel, yaitu Lord Cain.
Siapa sebenarnya Cain? Apa hubungannya dengan Abel? Kalau mau tahu, baca sendiri ya! (ran)
Trinity Blood
Karya asli: Yoshida Sunao
Ilustrator: THORES Shibamoto
Mangaka: Kuujou Kiyo
Penerbit: Asuka Comics (Kadokawa Shoten)
Jumlah tankoubon: 4 (masih berlanjut)
cp from :jp
Tahun ini persaingan dalam genre RPG strategi sangat ketat. Mula-mula, juara bertahan Nippon Ichi Software tampil dengan game Phantom Kingdom. Kemudian Namco bersama developer Monolith Soft menandinginya dengan game sensasional Namco x Capcom. Dan belum lama ini, muncul kandidat baru yang potensial dari Konami, yaitu Rhapsodia.
Pertama kali mendengar nama Rhapsodia mungkin tidak memberikan kesan yang mendalam. Tapi melihatnya-serta menyadari kaitannya dengan serial RPG populer Genso Suikoden-barulah game ini menarik perhatian. Kalau dulu Square Soft (sebelum menjadi Square Enix) mengadaptasi genre strategi lalu memberinya nuansa Final Fantasy sehingga menjadi game Final Fantasy Tactics, kini Konami melakukan hal yang sama dengan serial Genso Suikoden.
Kisah Rhapsodia bersetting sekitar cerita dalam Genso Suikoden IV. Di awal permainan, pemain akan bertemu dengan karakter utama game tersebut bersama karakter Snowe, yang ketika itu masih kecil. Tokoh utama Rhapsodia adalah Kyril, yang ditemani oleh Corselia, Andarc, Seneca, and Yohn. Mulanya, mereka menyelidiki misteri Rune Cannon dan sekelompok ras manusia ikan yang melakukan berbagai teror. Tapi kemudian cerita mengalir ke arah lain, ke arah suatu cerita baru yang tak kalah menariknya.
Total ada lima puluhan karakter yang bisa dimainkan. Lebih sedikit daripada 108 karakter yang biasa terdapat dalam serial Genso Suikoden, tapi lebih banyak daripada rata-rata RPG strategi. Jika pemain menggunakan save data Genso Suikoden IV ketika memulai permainan-tidak harus menamatkannya dulu-dua karakter utama game tersebut nantinya bisa dimainkan.
Ada tiga sistem yang menarik dalam game ini. Pertama, ketika pemain menggerakkan karakter, suatu ikon akan muncul untuk memberitahukan prospek langkah tersebut, apakah aman atau beresiko menerima serangan balasan dari lawan. Ikon juga akan muncul ketika ada karakter yang membutuhkan pengisian tenaga.
Kedua, para karakter bisa saling bercakap-cakap, baik dalam segmen karavan atau di tengah pertempuran. Percakapan ini meningkatkan hubungan antarkarakter, yang bisa membuka teknik serangan kombinasi yang melibatkan lebih dari satu karakter.
Ketiga, setiap karakter dan kotak di arena memiliki unsur bervariasi. Unsur ini kira-kira setara dengan konsep rune dalam serial Genso Suikoden. Jika karakter berada pada kotak yang sesuai, daya tempurnya akan meningkat. Sebaliknya, jika tidak sesuai, posisinya memburuk. Nantinya, karakter juga bisa mengubah unsur kotak di arena.
Dibandingkan RPG strategi lain, sistem permainan Rhapsodia terasa lebih simpel. Mungkin Konami berusaha menarik fans serial Genso Suikoden yang belum terbiasa dengan genre strategi ini. (ray)
Rhapsodia
Genre: Strategy RPG
Mesin: PlayStation2
Produksi: Konami
Rilis: 22 September 2005
cp from :jp
Jauh di sudut galaksi, terdapat sebuah planet yang dikenal sebagai Endless Illusion. Planet bernuansa wild wild west tersebut merupakan utopia bagi para penjahat. Kekacauan menjadi santapan sehari-hari para penghuninya.
Di tengah suasana amburadul itu, hiduplah seorang cowok jangkung bernama Van. Dari segi penampilan sih Van boleh juga. Balutan setelan tuksedo hitam panjang plus topi beranting membuatnya terlihat kakkoii. Penampilannya mirip cowboy era modern. Hanya, Van nggak menunggangi kuda, melainkan mecha superkuat bernama Danna. Van juga nggak mengandalkan pistol sebagai senjata utama. Dia menenteng sebilah pedang unik yang merupakan pengendali utama Danna.
Imej kakkoii itu bakal hancur lebur setelah menyaksikan kelakuan Van yang aneh. Sedikit narsistis, antisosial, dan seleranya terhadap makanan mungkin bakal bikin orang normal mual.
Kelakuan ancur itu menutupi kepribadian asli dan masa lalu Van yang kelam. Beberapa tahun silam, pengantin Van dibunuh di depan matanya, tepat di hari pernikahan mereka. Pelakunya, Kagi Tsume no Otoko (The Man with the Claw, Red), entah apa motifnya.
Demi membalas dendam atas kematian soulmate-nya, Van menjelajahi Endless Illusion. Saat singgah di kota Evergreen, Van bersua Wendy Gallet. Begitu tahu target mereka sama, Wendy langsung mengekor langkah Van. Hal ini membuat Van yang terbiasa hidup sendiri merasa terganggu. Abis, Wendy terlalu cute untuk jadi partner mengembara sih!
Berbagai peristiwa mewarnai perjalanan duo nggak matching ini. Mulai perseteruan dengan penguasa kota yang mengorbankan warganya demi ambisi pribadi hingga duel dengan pasangan norak yang mengincar Danna. Rintangan itu nggak hanya membuat Van-Wendy semakin kompak. Perlahan, mereka mulai memahami karakter masing-masing.
Berhasilkah Van dan Wendy mewujudkan tujuannya? Siapa sebenarnya Kagi Tsume no Otoko? Apa motifnya membunuh kekasih Van dan menculik kakak Wendy?
Cerita klise inilah yang menjadi tema utama GunxSword. Tema macam ini nggak hanya sekali dua diangkat dalam anime. Hal ini diakui sendiri oleh sang sutradara, Taniguchi Goro. “Ada seseorang yang ingin dibunuh sang tokoh utama. Untuk itulah dia berkelana. Karya yang sederhana. Tapi, itulah serial yang saya kerjakan sekarang,” ungkapnya pada Newtype.
Tapi, bukan berarti anime anyar jebolan AIC A.S.T.A ini kacangan lho. Kurata Hideyuki yang dipercaya menulis skenario membuat jalinan cerita GunxSword nggak terasa membosankan. Episode demi episode menawarkan kisah yang nggak terduga. Saat penonton berharap menyaksikan aksi keren duel mecha, Kurata malah menyuguhkan aksi konyol. Demikian pula sebaliknya. Kurata dapat mempertahankan mood penonton dengan cara ini.
Gaya penyutradaraan Taniguchi yang dinamis cukup menghibur. Terutama pas adegan pertarungan. Sayangnya, frame demi frame yang bergerak cepat akhirnya malah jadi bumerang, membuat mata penonton cepat lelah.
Satu hal yang patut disayangkan dari GunxSword. Kemunculan mecha dalam serial ini seolah hanya sebagai tempelan. Cara kemunculan mecha Van pun agak susah dinalar (mecha bisa dipanggil lewat topi?). Sebenarnya, tanpa perlu melibatkan mecha pun GunxSword cukup menarik diikuti.
Hingga tulisan ini diturunkan, TV Tokyo baru memutarnya sepanjang 16 episode. Bila nggak ada perubahan, petualangan Van dan Wendy akan berakhir pada episode ke-26. (ran)
Chara Van
Seiyuu: Hoshino Takanori
Sikapnya angin-anginan dan cuek. Van sangat sulit mengingat nama orang. Seleranya pun cukup aneh untuk ukuran orang normal. Tapi sebenarnya dia sangat kuat. Meski selalu bilang nggak peduli urusan orang lain, Van sering turun tangan bila melihat ketidakadilan. Sejak kematian pengantinnya, tuksedo panjang berwarna hitam selalu melekat di tubuhnya.
Wendy Gallet
Seiyuu: Kuwashima Houko
Kakak Wendy menghilang bersamaan dengan munculnya Kagi Tsume no Otoko. Hanya pistolnya yang tertinggal. Itulah sebabnya Wendy ikut berkelana bersama Van. Tiap hari, cewek berhati lembut ini harus menelan omelan Van yang kerap menyuruhnya pulang ke Evergreen. Kegigihan dan kebulatan tekad Wendy akhirnya membuat Van bertekuk lutut.
Carmen99
Seiyuu: Inoue Kikuko
Cewek seksi yang muncul secara random di hadapan Van dan Wendy. Keahlian Carmen adalah ngumpulin informasi. Sepertinya pemilik nama asli Carmen Dusa ini sudah lama kenal Van. Namun, hubungan mereka masih misterius.
GunxSword
Produksi: AIC A.S.T.A
Tayang: TV Tokyo, 5 Juli 2005
Jumlah episode: 16 (masih berlanjut)
Sutradara: Taniguchi Goro
Skenario: Kurata Hideyuki
Desain karakter: Kimura Takahiro
Musik: Nakagawa Kotaro
cp:jp
pengerjaan game shooting 2D Shikigami no Shiro III oleh developer Alfa System agak molor. Dari sedianya akhir tahun ini, game yang menokohkan para pemuda berkekuatan psikis ini tampaknya baru akan dirilis di mesin arcade bulan Februari tahun depan.
Game ini dibuat dengan board arcade milik Taito yang tercanggih, Type-X. Karena dua seri terdahulunya lumayan eksis di mesin Dreamcast, PlayStation2, GameCube, hingga Xbox, sangat mungkin seri baru ini akan hadir juga di mesin home-system. (ray)
Delapan belas tahun silam, Taito membuat game yang unik, yaitu Rainbow Island untuk mesin Nintendo Famicom. Dalam game tersebut, karakter protagonis menciptakan pelangi yang berfungsi untuk naik ke tempat yang lebih tinggi sekaligus untuk mengalahkan musuh. Kini, Taito membuat sekuelnya untuk mesin portabel Nintendo DS.
Game berjudul New Rainbow Island ini menyediakan tiga jenis pelangi. Dua di antaranya, pelangi lingkaran dan segitiga, bisa mengurung dan menghentikan gerak musuh. Sedangkan pelangi berbentuk bintang-yang disebut Over Rainbow-bisa menghabisi seluruh musuh di layar, kecuali karakter boss. Ada dua pertanyaan untuk game ini. Pertama, tidakkah bentuk-bentuk pelangi tersebut mengada-ada? Kedua, kenapa grafisnya tidak dibuat agak lebih modern, paling tidak sekelas seri-seri baru Puzzle Bubble di mesin arcade? (ray)
copy paste from: jp
