
Sepintas, Otonashi Saya tampak sebagai remaja normal. Berbakat dalam olahraga, punya sahabat yang selalu men-support-nya, dan Saya memiliki keluarga yang penuh kehangatan. Miyagusuku George, ayahnya, membuka kedai bernama Omoro. Kakaknya, Kai, meski berandalan, sangat menyayangi keluarga. Adik Saya, Riku, sangat cute.
Ooops, jangan tertipu! Karena sebenarnya, Saya tak se-innocent tampangnya. Bila malam tiba, Saya bisa mendengar suara-suara misterius yang “memanggil”-nya. Dia juga bakal berubah kepribadian bila mencicipi darah. Tapi, bukan darah sembarangan yang mampu membangkitkan the other Saya. Hanya darah milik cowok misterius berpakaian serba hitam, Haji, yang bisa.
Kebangkitan the other Saya berawal saat sekolahnya diserang makhluk ganas yang berkuku dan bertaring tajam. Makhluk itu nyaris menyerang Saya kalau saja Haji tak muncul. Haji menyodorkan sebilah pedang pada Saya yang masih shock. Dia juga meminumkan darahnya pada Saya secara paksa. Dan secara resmi, bangkitlah the other Saya. Tanpa ampun, Saya membantai makhluk itu.
Rupanya, makhluk menyeramkan itu adalah Chiropteran yang hidup dengan mengisap darah manusia. Agar Chiropteran tak mengganggu kehidupan manusia, kehadiran Saya sangat dibutuhkan.
Satu demi satu, kenyataan pahit mulai tersibak di depan mata Saya. Sang ayah ternyata anggota Akai Tate (Red Shield, Red.), organisasi misterius yang berusaha menghalangi aksi Chiropteran. Masa lalu Saya yang kelam pun perlahan terkuak. Saat semua misteri itu terungkap, dapatkah Saya tetap tersenyum seperti biasa?
Tak salah bila Production I.G. digelari penghasil anime berkualitas. Kalau kamu meragukan reputasi mereka, coba simak Blood+. Anime berbau darah dan angsty ini adalah salah satu karya baru mereka di tahun 2005 ini. Blood+ mulai “meneror” layar TBS 8 Oktober lalu.
Sejumlah nama yang tak asing di dunia anime turut terjun menggarap Blood+. Di antaranya, Fujisaku Junichi yang duduk di kursi sutradara dan Ishii Akiharu menjabat sebagai desainer karakter. Kepiawaian Teraoke Shinji dalam mendesain mekanik kembali diuji. Yang mengejutkan, nama Oshii Mamoru muncul sebagai co-planner. Nah, sudah terbayang kan kualitas Blood+?
Lima tahun silam, layar bioskop Jepang disinggahi anime Blood The Last Vampire. Durasinya yang kelewat pendek (kurang dari sejam, Red.) tak dapat memuaskan rasa ingin tahu penonton. Begitu banyak misteri yang dibiarkan mengambang tanpa jawaban.
Saat itu, tokoh utama Blood bernama Saya. Cewek bersenjatakan katana ini bak dewi perang haus darah saat membasmi vampir. Wajahnya pun nyaris tak menunjukkan ekspresi berarti.
Bila kamu ingin mendapatkan “secuil jawaban”, jangan lewatkan Blood+. Selain
visualisasinya yang cukup memuaskan, jalinan ceritanya juga bikin penasaran. Yah, meski mungkin kamu bakal gemas karena alurnya kelewat lambat. (ran)
Tayang: TBS, 8 Oktober 2005
Produksi: Production I.G.
Original story: Production I.G., Aniplex
Sutradara, series supervisor: Fujisaku Junichi
Desainer karakter: Ishii Akiharu
Desain mekanik: Teraoka Shinji
Co-Planner: Oshii Mamoru
Musik: Mark Mancina